Selasa, 09 Februari 2016
Kabar Dari Negeri Kami
Kabar dari negeri kami. Alhamdulillah disini masih banyak orang yang belum tahu apa itu thoghut, jangankan anak anak, orang dewasanya saja masih belum banyak yang mengerti apa saja yang membatalkan syahadatain. Alhamdulillah masih banyak lahan amal sholeh buat kami disini, karena memang belum futuh, jadi insyaAllah pahalanya berlipat lipat. Anak anak didik kami di PPUI, alhamdulillah sudah mulai banyak yang mengerti perjuangan, semoga mereka akan menjadi penerus kekhalifahan ini dimasa mendatang.
Disini, orang dewasanya aja masih banyak yang tidak mau sholat, kalau diingatkan, ya dianggap angin lalu saja. Kalau kita agak keras sedikit mereka malah marah marah dan kita yang dianggap ekstrem. Kami untuk saat ini masih harus banyak bersabar, yang kadang harus menelan liur dengan nafas sesak di dada. Mau apa lagi, ummat ini diajak bersatu masih sulit, jadi alhamdulillah masih banyak lahan perjuangan dengan pahala besar, insyaAllah.
Allahu Akbar. Sunnatullah akan tetap terjadi. Dahulu bangsa Indonesia ngakunya mengusir penjajah dengan bambu runcing. Padahal dunia tahu, kekalahan Jepang adalah bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Namun bagaimanapun, mereka yang berjuang dengan bambu runcing tetap dapat pahala sesuai dengan niat dan kesungguhan mereka. Disini kami berharap doa mereka yang mazlum, akan diijabah Allah, disana kami berharap, doa mereka yang ribat dan sedang jihad di ma'rokah, akan diijabah Allah. Bagi sahabat kami yang sedang ribath dan sedang di ma'rokah, jangan lupa doakanlah kami.
Melihat jumlah distribusi zakat disana, yang sangat fantastis, alhamdulillah. Hati kami campur aduk antara kagum, bahagia, haru dan sedih. Sedihnya kami ketika dihadapkan pada kenyataan dinegeri kami, jangankan infak, zakat saja masih belum bisa maksimal. Jangankan mereka yang belum mengerti kekhilafan, yang sudah warga saja, masih perlu banyak pembinaan. Mungkin karena REWARD nya ndak kelihatan kali ya. Disana, sebagaimana layaknya tempat yang sudah futuh, air bisa gratis, listriknya juga bisa gratis, pendidikan dan kesehatan gratis, alhamdulillah. Kami disini, sa' pol polan nya kami berinfak, semua masih harus bayar. Alhamdulillah kami berusaha bikin pendidikan gratis, disatu sisi, mereka yang sadar, pontang panting tuk memenuhi kebutuhan pendidikan, sementara disisi lain, masih banyak juga yang acuh tak acuh. Sebahagian warga bersedia mendedikasikan anaknya untuk dididik menjadi kader kekhalifahan, alhamdulillah meski masih ada juga yang belum bersedia. Semoga beratnya perjuangan disini sebanding juga dengan nilai pahala yang dijanjikan Allah.
Alhamdulillah, semoga semua juga faham, masing masing ada kelebihan dan kekurangan nya sendiri sendiri. Hanya saja, berada ditempat yang sudah futuh tentu jauh lebih menggiurkan daripada berada disini. Kami disini, ndak diajak juga sudah kepengen hijrah kesana, sementara mereka yang disana tentu ndak ada yang mau datang berjuang kesini. He he he. Meskipun kita kasih tahu bahwa keutamaan berjuang sebelum futuh ibarat segenggam korma dan segunung Uhud emas. Ya Allah, kuatkanlah kami semua. Aamiin
Alhamdulillah, jazakumullah khairan katsira.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar