Allah swt
berfirman di surah Ar Rahman: 46 dan seterusnya
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Dan
bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.
Beberapa
ayat setelahnya Allah berfirman lagi
وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ
Dan
selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi (ayat 62)
Dari dua ayat ini tergambar bahwa bagi orang yang muttaqin
yang takut kepada maqom Rabbnya, Allah siapkan dua surga. Sementara Allah
sebutkan lagi bahwa dibawah derajat tersebut ada dua surga lagi yang Allah
siapkan. Betapa rincinya Allah menyebutkan secara detail didalam surat Ar
Rahman ini. Mari kita kaji bersama semoga menambah keimanan kita.
Dua surga yang Allah siapkan bagi orang yang muttaqin (pada
derajat tertinggi) disebutkan sifatnya yaitu ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan) yang dimaksud disini adalah pohon yang lebat
yang dari celah-celah pohon itu ada cahaya yang terpancar menembus dedaunan.
Alangkah indahnya pemandangan. Adapun dari dua surga yang dibawahnya (yang
kedua) Allah menyebutkan مُدْهَامَّتَانِ (kedua syurga itu kelihatan hijau tua warnanya)
yaitu pohon yang sangat lebat yang tidak bisa ditembus cahaya sanking lebatnya,
tentu pemandangan ini tidak lebih indah dari yang pertama.
Dua surga yang pertama Allah sebutkan فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang
mengalir/ayat 50) maksudnya mata airnya terpancar sedemikian rupa
hingga airnya mengalir, sementara air yang mengalir adalah tentu lebih jernih
dan lebih indah daripada air yang tidak mengalir.
Dua surga yang dibawahnya Allah sebutkan فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ (di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata
air yang memancar/ayat 66)
air yang memancar atau air mancur maksudnya airnya memancar sedemikian rupa
akan tetapi tidak mengalir ke tempat lain, hanya disekitar itu saja. Dengan
mudah orang bisa membuat air mancur di rumahnya tetapi tidak semudah orang
membuat sungai yang mengalir.
Dua surga yang disiapkan bagi hamba yang muttaqin disebutkan
bahwa مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا
مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ (mereka bertelekan di atas permadani yang
sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat dipetik
dari dekat/ayat 54 ). Bayangkan betapa indahnya apa yang digambarkan
Allah tentang permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal dan buah-buahan
yang datang mendekat sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw ketika
beliau bersabda: ظواهرها نور يتلألأ ، والشجر يدنو من
ولى الله فيها وهو مضطجعا يقطف منها جناها (dari luarnya
nampak cahaya berkilauan sedangkan pepohonan mendekatkan buahnya kepada wali
Allah yang berada didalamnya sementara mereka bersandar sambil memetik buahnya).
Bayangkan untuk memetik buah saja cukup sambil bersandar
sementara buahnya itu datang mendekatimu tinggal kamu memilih mana yang kamu suka...,
betapa indahnya ya Rabb.
Adapun dua surga yang dibawahnya, Allah sebutkan مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ
حِسَانٍ (mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani
yang indah/ayat 76) disini Allah gambarkan warna hijau dari bantal
yaitu yang nampak dari luar, tidak disebutkan bagian dalamnya. Sesuatu yang
disebutkan hanya luarnya saja tentu tidak sama dengan sesuatu yang disebutkan
detail bahwa bagian dalamnya dari sutera halus. Meskipun demikian permadani
yang nampak hijau dari luarnya apakah bagian dalamnya dari sutera atau tidak disebutkan,
tetap saja indah.
Dua surga yang pertama Allah sebutkan فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ
وَلا جَانٌّ (di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan
pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka
(penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh
jin/ayat 56) Qooshiroot artinya bahwa para
bidadari surga itu menahan diri dan pandangannya atas kehendaknya sendiri hingga
tidak tersentuh oleh apapun baik dari golongan jin maupun manusia dan ini
adalah puncak dari kemuliaan.
Adapun pada dua surga yang dibawahnya حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih, dipingit dalam
rumah/ayat 72) kalimat Maksuuroot berbeda
dengan Qoosiroot walaupun asal katanya sama. Maksuroot
artinya mereka (bidadari) terjaga dan terpelihara didalam kemah-kemah mereka.
Sementara Qoosiroot artinya
mereka memelihara diri atas kehendak mereka sendiri. Sungguh Rabb kita
telah merinci dengan tertib dengan perbedaan yang lembut yang jika kita teliti
membuat bulu roma kita berdiri.
Tentu saja bagi hamba yang bertaqwa (muttaqin) yang takut
kepada Rabbnya, Allah pasti menyiapkan yang paling istimewa. Mari kita
perhatikan sekali lagi. Begitu dia memasuki surgaNya langsung nampak olehnya dahan
ranting dan dedaunan yang ditembusi cahaya dari celah-celahnya dari aneka macam
pepohonan (bukan dari satu macam) dan diapun melihat dua mata air yang
terpancar hingga airnya mengalir kemudian dia melihat buah-buahan yang indah
yang diairi oleh dua mata air tadi. Pepohonan tersebut datang mendekatkan dahan
dan rantingnya menawarkan buah-buahannya yang terbaik sementara dia tidak perlu
bangkit untuk memetiknya cukup dengan bersandar saja. Kemudian dia menikmati
kelezatan buah-buahan tersebut sambil bersandar pada permadani yang bagian
dalamnya dari sutera halus, kasur yang empuk dengan sangat rileks. Sungguh
kenikmatan yang sempurna... Tidak hanya sampai disitu saja. Di kasur yang empuk
itu ada sosok lembut yang menemaninya yang matanya tertunduk, yang berkulit
putih bersih, yang menyapa dengan tutur kata lembut, yang harum semerbak, yang
menggairahkan, yang menyenangkan, yang sempurna kemuliaannya, yang tidak pernah
disentuh sebelumnya oleh jin dan manusia... Luar biasa... Ya Allah alangkah
bahagianya jika kami termasuk orang yang Engkau janjikan yang demikian itu.
Adapun dua surga yang dibawahnya meski tidak seindah yang
diatasnya masih tetap banyak keindahan dan kenikmatan yang Allah siapkan bagi
hambaNya yang beriman. Sekilas nampak sedikit saja perbedaan antara kedua
derajat surga ini.
Surga yang kedua ini Allah siapkan bagi hamba yang beriman
dan beramal sholeh namun boleh jadi dalam kesendiriaannya dia melakukan
dosa-dosa yang dia sembunyikan kemudian dia mohon ampun kepada Allah kemudian
dia melakukan dosa-dosa kecil kemudian dia mohon ampun kepada Allah. Dia adalah
orang baik, orang sholeh bahkan wali Allah dalam pandangan manusia tetapi hanya
Allah yang tahu dibelakang itu masih ada
hal-hal buruk yang dengan kasih sayangNya, Allah tetap merahasiakannya dari
pandangan manusia.
Mari kita menjaga diri kita dan memohon kepada Allah untuk
membantu kita hingga kita mampu membatasi diri kita atas kehendak kita sendiri
dari semua yang dilarang Allah dan memperbanyak ibadah kita baik pada pandangan
manusia maupun dalam kesendirian kita.
Mutorrif bin Sikhir, seorang ulama yang zuhud berkata: “Jika
seorang hamba, sama saja yang dia nampakkan maupun yang dia sembunyikan, maka
Allah swt berfirman: inilah hambaKu yang sebenarnya”.
Perhatikan pula perkataan Ibnu Qoyyim ra berikut ini:
“Para ulama yang arif bijaksana telah sepakat bahwa dosa-dosa yang dilakukan
dalam kesendiriaan adalah bentuk penghianatan yang tersembunyi”.
Sesungguhnya menjaga diri dari berbagai
kemaksiatan adalah juga bentuk kesyukuran kita atas nikmat Allah karena
kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang hamba adalah bentuk pembangkangan dan
mendustakan nikmat Allah.
Allah berfirman dalam penutup surat Ar Rahman
(ayat 77-78)
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Maha Agung nama Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan karunia.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang muttaqin yang takut
kepada Allah serta menjaga diri dalam kesendirian kita hingga berada pada
derajat utama bagi hamba yang muttaqin yaitu mereka yang beriman kepada yang
ghoib, menegakkan shalat dan senantiasa menafkahkan sebagian rizki yang
dikaruniakan Allah kepadanya.